Showing posts with label Waspadalah. Show all posts
Showing posts with label Waspadalah. Show all posts

Monday, November 7, 2016

Buaya Sungai Menyambar Anak 15 Tahun

PERAWANGPOS, Maulana (15) tewas dimangsa buaya di Sungai Kuala, Dusun Saka 3, Desa Santan Saru, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Banyuasin.

Kepala Desa Santan Sari, Gatot menjelaskan kejadian nahas tersebut, berawal ketika korban berangkat dari rumahnya untuk membantu orangtua membersihkan rumput di sawah karena dalam waktu dekat akan masuk musim tanam.

Usai membersihkan sawah, sampah bekas rumput dan semak dari sawah tersebut dikumpulkan dan seperti biasa dihanyutkan ke sungai. Karena sudah sore, air sungai muara menjadi surut, yang awalnya sepinggang, menjadi daratan. Lalu korban turun ke tepian sungai untuk membuang sampah bekas membersihkan sawah.

"Usai melemparkan rerumputan ke sungai, ternyata ada buaya yang langsung menyambar kaki korban," kata Gatot kepada Okezone, Selasa (8/11/2016).

Buaya yang diperkirakan berukuran 3,5 meter itu menyeret korban ke tengah sungai yang lebarnya mencapai 50 meter lebih.

"Perairan di sini memang dikenal merupakan habitatnya buaya muara," pungkasnya.

Sumber: Okezone.com

Monday, October 24, 2016

Tega Sekali! Pembunuhan Adik Ipar di Perawang

PERAWANGPOS, TUALANG- Cekcok dalam keluarga di Kabupaten Siak, Riau berujung kematian. Kakak dengan tega membunuh adik iparnya hanya karena unsur sakit hati.

Demikian disampaikan, Kapolres Siak, AKBP Restika Nainggolan kepada detikcom, Minggu (23/10/2016). Dia menjelaskan, dalam kasus pembunuhan ini pihaknya sudah berhasil menangkap 2 pelaku. Pembunuhan sadis ini terjadi di Desa Tualang Timur Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak. Korbanya adalah, Yuslim Gulo (27) warga asal Nias, Sumut.

Pelakunya ada dua orang yakni, Faoza Gulo (27) dan Sofian Hadi Nasution. Kedua pelaku bekerja sebagai satpam di perusahaan perkebunan sawit.

"Keduanya sudah ditangkap pihak Polsek Tualang. Penangkapan ini dimpimpin Kapolsek Tualang Kompol Ali Dahmar Siregar dan Kanit Reskrim, Iptu Yusup Purba," kata Restika.

Masih menurut Restika, kedua pelaku ditangkap di Kabupaten Pelalawan, Riau. Keduanya kabur dari Kecamatan Tualang, Siak setelah membunuh korbannya.

"Tim Polsek Tualang membuntuti tersangka, dan akhirnya dini hari tadi keduanya berhasil dibekuk tanpa perlawanan," kata Restika.

Kanit Reskrim Polsek Tualang, Iptu Yusup Purba menambahkan, bahwa perkelahian kedua tersangka dengan korban hanya persoalan sepele. Awalnya korban, Yuslim Gulo ikut kerja bersama kakak iparnya Faoza Gulo yang tidak lain tersangka pembunuhan.

"Korban tidak terima bekerja ikut kakak iparnya karena belum juga diangkat jadi karyawan. Di sinilah awal mulanya keributan keluarga mereka," kata Yusup Purba.

Karena belum diangkat karyawan, lanjut Yusup, lantas korban berniat ingin mencari pekerjaan lain. Korban pun berencana cari pekerjaan namun istrinya inisial G akan ditinggal. Merasa akan ditinggal suaminya, lantas hal itu dilaporkan ke kakaknya Faoza.

"Menerima kabar adiknya akan ditinggal suaminya yang mau cari kerja lain, Faoza tak terima. Terjadilah keributan di rumah korban," kata Yusup.

Saat terjadi keributan itu, lanjut Yusup, korban Yuslim akan membacok istrinya dengan benda tajam. Melihat hal itu, Faoza tak terima dan langsung membacok korban dengan parang. Perkelahian itu dibantu oleh Sofian yang tidak lain teman sekerja Faoza.

"Korban dikeroyok dalam perkelahian itu. Korban Yuslim tewas karena luka benda tajam. Setelah membunuh keduanya melarikan diri. Namun kini keduanya sudah berhasil kita tangkap," tutup Yusup Purba.

Sumber: detik.com

Tuesday, October 18, 2016

Istri Munir Tuntut Janji Jokowi Mengusut Kematian Aktivis Munir

PERAWANGPOS -- Istri mendiang Munir Said Thalib, Suciwati akan mengultimatum Presiden Joko Widodo untuk segera membuka dokumen investigasi tim pencari fakta pembunuhan suaminya. Upaya hukum lanjutan terkait tidak kunjung dibukanya dokumen itu juga akan ditempuh.

Suciwati akan menyampaikan ultimatum itu didampingi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Rabu (19/10) di Jakarta.

Divisi Advokasi Hak Sipil dan Politik KontraS Satrio Wirataru mengatakan, ultimatum akan dilayangkan kerena selama ini tidak ada indikasi dari pemerintah bakal mengumumkan hasil investigasi TPF itu.

Sebelumnya Komisi Informasi Pusat (KIP) memutuskan bahwa dokumen TPF kasus Munir yang diserahkan pada pemerintah pada tahun 2005 adalah dokumen publik.

Tapi sejak diputuskan oleh KIP pada 10 Oktober 2016, yang terjadi menurut Satrio, pemerintah terkesan tak berniat untuk mengumumkan dokumen itu.

Sekretariat Negara menyatakan tak menguasai dokumen TPF itu. Padahal seharusnya lembaga ini yang mendokumentasikan kegiatan Presiden. Dokumen diserahkan TPF ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memerintah.

Karena Kementerian Setneg mengaku tak menguasai dokumen itu, Jokowi selanjutnya melemparnya ke Kejaksaan Agung untuk mencari dokumen itu.

Oleh sebab itu, Suciwati menurut Satrio merasa perlu memberi ultimatum pada Jokowi.

"Ultimatum soal hilangnya dokumen negara dan upaya hukum lain yang akan ditempuh," kata Satrio kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/10).

Satrio mengingatkan setelah sebuah dokumen diputuskan KIP sebagai dokumen publik, ada konsekuensi pidana bagi yang menutup-nutupinya.

Dokumen tersebut sudah seharusnya dibuka untuk publik. Jika nantinya upaya hukum ditempuh, tinggal kepolisian punya itikad baik atau tidak untuk menindahlanjutinya.

Munir terbunuh pada tahun 2004. Aktivis hak asasi manusia itu meninggal di dalam pesawat saat perjalanan menuju Amsterdam, Belanda.

Dari hasil peyidikan diketahui, ada racun arsenik di lambung Munir. Dalam perjalanannya hanya satu orang yang dianggap bersalah yakni bekas pilot Garuda Indonesia, Pollycarpus Budihari Priyanto yang divonis 14 tahun penjara. 

Namun setelah menerima beberapa kali remisi, ia dinyatakan bebas bersyarat pada November 2014. 

Deputi V Badan Intelijen Negara Muchdi Prawiro Pranjono pernah dijadikan tersangka dalam kasus ini. Namun pengadilan kemudian membebaskannya dari segala dakwaan.

Sumber : CNN

Thursday, October 13, 2016

Pakai Dana Zakat, Jokowi Kalap, Keruk Uang Orang Yang Berhak Menerima Zakat

PERAWANGPOS -- Rencana pemerintah menggunakan dana zakat umat untuk pembangunan infrastruktur dikecam banyak pihak. Penggunaan dana zakat itu dinilai sebagai sikap “kalap” Pemerintahan Joko Widodo mengeruk uang rakyat.

Pemikir Islam Muhammad Ibnu Masduki menilai, penggunaan dana zakat sama artinya dengan mengeruk uang umat. “Menggunakan dana zakat sama artinya mengeruk uang rakyat. Sudah jelas, siapa saja yang berhak menerima zakat,” kata Muhammad Ibnu Masduki (13/10).

Menurut Ibnu Masduki, dana zakat seharusnya lebih diutamakan untuk memberdayakan umat Islam yang mengalami kemiskinan. “Bukan untuk membangun infrastruktur. Kalau DPR dan pemerintah menyetujui dana zakat untuk infrastruktur, maka keduanya sudah keblinger,” jelas Ibnu Masduki.

Ibnu Masduki menegaskan, wacana penggunaan dana zakat untuk infrastruktur menjadi sinyal bahwa keuangan negara sedang alami masalah. “Katanya tax amnesty sukses, mengapa melirik dana zakat,” papar Ibnu Masduki.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VIII DPR Iskan Qolba Lubis mengatakan, penggunaan dana zakat untuk membangun infrastruktur masih bisa diterima. Hanya saja perlu kehatian-hatian dalam penerapannya.

Sumber : Intelijen

Tak Percaya Imigran China Akan Dimanfaatkan Ahok Untuk Pilkada DKI? Ketum HMI Beberkan Bukti

PERAWANGPOS -- Semua pihak harus mewaspadai banyaknya imigran asal China di Jakarta untuk mencegah terjadinya kecurangan proses Pilgub DKI Jakarta 2017. Sangat dimungkinkan, imigran China tersebut akan dimanfaatkan oleh salah satu pasangan untuk memenangkan Pilgub DKI dengan cara-cara yang tidak demokratis.

Seruan itu disampaikan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Mulyadi P. Tamsir (13/10).

Isu itu bukan isapan jempol. Tanpa maksud menebar isu SARA, Mulyadi mengungkapkan fakta di lapangan terkait “merajalelanya” imigran China di Jakarta. Mulyadi sempat bertemu dengan beberapa orang beretnis Tionghoa, namun jenis kulitnya sangat berbeda dengan etnis Tionghoa Indonesia. Mereka menjual souvenir bercorak Tionghoa.

“Wanita itu tanpa bicara sedikitpun. Wanita itu memegang kertas kecil berukuran sekitar 20 cm x 10 cm bertuliskan “MOHON MAAF SAYA TIDAK DAPAT BERBICARA DAN TIDAK MENDENGAR, KAMI MEMBAWA SUVENIR UNTUK KAMI JUAL SEHARGA 30.000 -50.000 RUPE,” beber Mulyadi.

Menurut Mulyadi, di tempat yang sama, datang wanita remaja berusia dibawah 20 tahun, memegang kertas dengan warna dan ukuran serupa dan menjinjing tas serta mengenakan jenis sepatu dan warna yang sama dengan wanita yang pertama.

Mulyadi memastikan bahwa wanita tersebut tidak bisu dan tuli, tetapi tidak dapat berbicara bahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris, karena mereka baru datang ke Indonesia dari negara Cina dan belum bisa berbahasa Indonesia.

“Kejadian tersebut hendaknya jadi perhatian kita semua, bahwa saat ini telah berkeliaran imigran China di Jakarta. Mereka tengah berjuang mencari uang dengan menjual suvenir dan berpura-pura bisu dan tuli agar tidak diajak bicara dan diinvestigasi oleh masyarakat,” ungkap Mulyadi.

Terkait banyaknya imigran China di Jakarta Mulyadi menyerukan agar warga Jakarta memeriksa identitas pasport atau KTP apabila bertemu dengan orang dengan ciri-ciri yang sama dan motif serupa seperti yang diungkapkan Mulyadi.

“Hal tersebut untuk mencegah terjadinya kecurangan proses pemilihan gubernur DKI Jakarta. Jika kita biarkan, maka sangat dimungkinkan akan dimanfaatkan oleh salah satu pasangan untuk memenangkan pemilihan gubernur dengan cara-cara yang sangat tidak demokratis,” pungkas Mulyadi P. Tamsir.

Sumber : Intelijen

Wednesday, October 5, 2016

Alamak Kapolsek Gantung Diri, Apa Pasal ?

PERAWANGPOS, Kapolsek Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, Ipda Nyariman ditemukan tewas di ruang kerjanya dengan kondisi tergantung menggunakan tali plastik. Korban diduga bunuh diri.

Polisi masih mendalami penyebab kematian Kapolsek Karangsambung tersebut. "Latar belakang peristiwa tersebut masih dalam penyelidikan Bidang Propam Polda Jawa Tengah," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar saat dihubungi detikcom, Kamis (6/10/2016).

"Sementara tentang isu itu sedang didalami back ground atau motif yang bersangkutan melakukan bunuh diri itu masih dalam pendalaman dan pemeriksaan oleh Bidang Propam," sambungnya.

Isu yang dimaksud adalah soal informasi beredar yang menyebut latar belakang aksi nekat itu karena utang sekitar Rp250 juta kepada anggota Polsek Buayan, Aiptu Sudiman. Anak Aiptu Sudiman mengikuti Secaba Polri dengan fasilitator Ipda Nyariman dengan syarat sejumlah uang tersebut.

Ternyata anak Aiptu Sudiman tidak lolos dan ia menagih uang tersebut. Perundingaan pun terjadi dan Ipda Nyariman berjanji akan mengganti, namun setelah masuk ruangan ternyata tidak kunjung keluar dan sudah ditemukan tewas.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Djarod Padakova membenarkan informasi tersebut. Ipda Nyariman ditemukan tewas sekira pukul 11.00 WIB siang tadi oleh anggotanya setelah dua jam tidak keluar dari ruangan.

"Benar, kronologis kejadian, almarhum pada pukul 09.00 memasuki ruangannya dan tidak keluar lagi pukul 11.00. Dari polsek merasa curiga dan membuka paksa ruangan Kapolsek dan didapati Ipda Nyariman yang menjabat Kapolsek Karangsambung meninggal dunia gantung diri dengan seutas tali," kata Djarod, Rabu (5/10/2016).

Sumber: detik.com

Polsek Tualang Berhasil Menagkap 1 Orang Pengedar Sabu-Sabu di BTN Cendrawasih

PERAWANGPOS, TUALANG – Tim Opsnal Polsek Tualang berhasil menangkap seorang pengedar narkoba jenis sabu di BTN Cendrawasih Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Selasa (4/10/16) dini hari.

Petugas kepolisian berhasil mengamankan barang bukti 1 paket sabu yang ditemukan dalam bungkus kotak rokok dan 1 paket kecil disimpan oleh pelaku di dalam lemari kamar.
Selain itu diamankan juga 6 paket kecil plastik kosong pembungkus sabu, 1 buah alat timbang sabu, 1 buah kaca pirex, pipet, bong untuk penghisap sabu dari botol kaca bekas parfum, 1 kaleng rokok sampoerna warna merah, hendphone Samsung lipat dan sepeda motor Suzuki Satria FU warna hitam Nopol BM 2572 YX.

Pekerja kontraktor yang nyambi jadi pengedar sabu bernama inisial RAS alias Abim (20) itu, mengaku sebagai karyawan PT Nusarika Prima Engenering.

Penangkapan berawal dari informasi yang diterima petugas dari masyarakat yang menyebutkan akan ada seorang pria yang akan bertransaksi narkoba. Kemudian petugas langsung melakukan penyelidikan lanjutan dan memantau tersangka. Saat dilakukan penggeledahan dirumahnya, pelaku tidak bisa mengelak dengan ditemukannya barang bukti.

Kapolsek Tualang Kompol Ali Dahmar Siregar ketika dikonfirmasi Infosiak.com membenarkan bahwa petugas telah mengamankan seorang pengedar narkoba jenis sabu.

“Penangkapan terhadap pelaku dilakukan dini hari tadi, pelaku dan barang bukti sudah diamankan,” kata Kapolsek.

Saat ini pelaku diamankan di Polsek Tualang untuk proses penyelidikan lebih lanjut.

Sumber : infosiak.com